Percuma Belajar Bahasa Jepang jika tidak Praktek

Jika belajar bahasa Jepang tetapi tidak dipraktikkan, maka sama saja dengan tidak belajar. Karena pelajaran bahasa bukanlah pelajaran yang membutuhkan teori semata, melainkan sebuah praktek yang harus dilakukan sehari-hari oleh anda.

Bahkan kesuksesan dalam pembelajaran bahasa asing ditolak ukur dengan cara seseorang tersebut sudah mampu mengerti apa yang dibicarakan orang lain, dan mampu berbicara apa yang ingin dikatakan. Dengan begitu, akan menciptakan sebuah obrolan dari kedua belah pihak.

Belajar Bahasa Jepang

Banyak juga orang yang sudah mampu mengerti apa yang dibicarakan orang lain, tetapi dia sendiri tidak bisa berkata atau menjawab apa yang dia pikirkan. Parahnya, banyak pula orang yang sudah ditahap ini merasa bangga atau puas. Padahal, prosesnya tidak boleh berhenti sampai di sana.

Jadi, untuk mampu berada di tahapan berbicara dengan lancar, tentunya anda harus berusaha berlatih berbicara setiap hari. Belajar bahasa Jepang itu bukanlah diartikan dari Indonesia ke Jepang, melainkan langsung diartikan oleh otak anda apa yang ingin anda sebutkan. Untuk melakukannya, praktek setiap hari adalah kuncinya.

Intinya, belajar bahasa itu bukanlah sebuah kegiatan menerjemahkan dari bahasa anda ke bahasa asing, karena itu akan memakan waktu bagi anda untuk berbicara atau berekspresif. Sementara ekspresif sendiri adalah bagian dari pembelajaran bahasa Jepang yang membutuhkan jam terbang yang tinggi.

Jadi, tidak heran jika masih banyak orang yang sudah pergi ke Jepang tetapi masih belum mampu berkata secara lancar. Weihome Gakuen pernah mengatakan kenyataan tersebut melalui artikelnya. Si penulis berkata bahwa tidak semua lulusan jisshuusei (yang rata-rata menghabiskan waktu di jepang selama 1-3 tahun) mampu berbicara bahasa Jepang secara lancar.

Menurut website tersebut, banyak para pemagang yang malah keenakan berbicara bahasa sendiri karena tinggal di kawasan para jisshuusei yang dominannya berasal dari negeri sendiri. Mereka banyak melupakan pelajaran yang diterima dari LPK karena merasa sudah sukses berada di Jepang.

Selama bisa bekerja dengan baik, maka bahasa Jepang tidak diperlukan lagi. Pola pikir seperti itu adalah fatal karena saat kembali lagi ke Indonesia, kemampuan bahasa Jepang mereka tidak memiliki kemajuan sama sekali.